Jakarta – Stres adalah bagian tak terhindarkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari tekanan akademik, pekerjaan, hingga hubungan sosial, stres hadir sebagai respons alami tubuh terhadap berbagai situasi. Patricia Yahya, mahasiswi Psikologi semester 5 di Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), memaparkan bahwa stres dapat bersifat positif maupun negatif tergantung pada cara mengelolanya.
“Stres itu penting, terutama untuk memotivasi kita agar keluar dari zona nyaman. Namun, ketika stres sudah mulai mengganggu aktivitas atau hubungan dengan orang lain, itu tandanya kita harus segera mengatasinya,” jelas Patricia. Menurutnya, stres tidak hanya disebabkan oleh faktor internal seperti kurangnya motivasi, tetapi juga faktor eksternal, seperti hubungan sosial yang tidak suportif atau lingkungan yang kurang mendukung.
Patricia menambahkan, emosi juga memainkan peran penting dalam pengalaman stres. Ketika seseorang berada dalam kondisi stres tinggi, emosinya cenderung menjadi lebih sensitif dan mudah terpicu. “Stres dan emosi itu saling berkaitan. Kalau kita tidak bisa mengelola stres, emosi kita juga akan sulit dikendalikan. Ini bisa berdampak buruk pada hubungan dengan orang lain,” ungkapnya.
Ia menyoroti bahwa lingkungan sosial yang suportif dapat membantu seseorang menghadapi stres dengan lebih baik. Dukungan dari keluarga, teman, atau pasangan menjadi sangat penting. “Lingkungan yang positif akan membuat kita merasa divalidasi tanpa dihakimi. Tapi kita juga harus punya batasan atau boundaries untuk melindungi diri dari hal-hal yang justru memperburuk kondisi kita,” imbuh Patricia.
Bukan hanya lingkungan sosial, Patricia juga menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda stres berlebih. Ketika stres mulai terasa menumpuk dan memengaruhi keseharian, ini bisa menjadi gejala awal depresi. “Kalau sudah merasa seperti itu, jangan diam saja. Segera cari bantuan profesional. Jangan mencoba mendiagnosis diri sendiri karena hal itu bisa memperburuk kondisi,” sarannya.
Untuk mengelola stres, Patricia merekomendasikan beberapa cara sederhana seperti mendengarkan musik, menonton film, atau melakukan hobi yang menyenangkan. Namun, ia mengingatkan bahwa langkah-langkah ini sebaiknya diimbangi dengan upaya memahami penyebab stres dan mencari solusi untuk mengatasinya. “Mengalihkan perhatian memang membantu, tapi yang paling penting adalah menghadapi dan menyelesaikan masalahnya,” ujarnya.
Patricia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam hidup. Menurutnya, stres yang dikelola dengan baik dapat menjadi alat untuk belajar dan berkembang. “Stres bukan musuh, tapi bagian dari hidup. Yang penting adalah bagaimana kita mengelolanya dengan bijak agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain,” pungkas Patricia.
Stres adalah tantangan yang dihadapi setiap individu. Dengan dukungan lingkungan yang positif, kemampuan untuk mengenali tanda-tanda bahaya, dan langkah aktif untuk mengelolanya, stres dapat diubah menjadi pengalaman yang membangun. Tidak ada salahnya meminta bantuan ketika diperlukan, karena kesehatan mental adalah prioritas yang harus dijaga.
Penulis: Lenting – Rimarsa

Komentar
Posting Komentar